Jumat, 24 Januari 2020

Menjadikan Worldview Islam (Pandangan Hidup Islam) Sebagai awal kebangkitan Peradaban Islam.


Menjadikan Worldview Islam (Pandangan Hidup Islam)
Sebagai awal kebangkitan Peradaban Islam.

Oleh : Arjun Bayu Pratama

Disadari atau tidak umat islam hari ini telah dihadapkan dengan suatu permasalahan yang sangat kompleks. Umat Islam hari ini telah mendapati kekacuan serius dalam kahidupannnya. Ke-Khalifahan yang menjadi pelindung bagi rakyat untuk melakukan Ibadah secara menyeluruh(kaffah), nyatanya tak dimiliki Umat Islam hari ini. Kehidupan masyarakat yang kakmur dan adil sebagai standar kehiudupan yang layak bagi manusia pun tak dimiliki umat Islam hari ini. Ekonomi berdasarkan asas islam yang akan menjadi pelingdung bagi pelaku ekonomi, baik pelindung bagi usahhanya maupun pelindung dari kesalahan ekonomi yang tak berdasarkan aturan Rabb alam semesta juga tidak dimiki umat islam hari ini. Dunia Pemerintahan, dunia Pendidikan, dunia politik, dunia kemasyarkatan, juga mengalami kondisi kritis yang sama, yakni jauh dari nilai-nilai Islam.

Akhirnya yang terjadi hari ini adalah kekacuan dimana-mana. Pembantaian masyarakat islam, riba dalam berekonomi, sekuler dalam pemerintahan, Zina merajalela dalam pergaulan umat hari ini, yang benar dianggap salah, yang salah dianggap benar akibat dari standar kebenaran yang berdasarkan penilaian masyarakat sosial, yakni kebenaran yang dianggap umum. Hampir saja umat islam telah berlepas diri  dari nilai-nilai Islam itu sendiri, dan hampir saja umat islam kehilangan identitas dirinya sendiri. Bagaimana hal ini bisa terjadi ? menurut Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi dalam sebuah karya ilmiahnya “Liberalisasi Pemikiran Islam: Gerakan Bersama Missionaris, Orientalis dan Kolonialis” tantanngan fundamental umat islam hari ini sebenarnya bukan berupa ekonomi, politik, sosial dan budaya, tapi tantangan pemikiran. Sebab persoalan yang timbul dalam bidang-bidang tersebut serta bidang-bidang terkait lainnya, jika dilacak, ternyata bersumber pada persoalan pemikiran. Menurutnya tantangan pemikiran ini bersifat internal dan eksternal. Tantangan internal dalam hal ini yaitu kejumudan, fanatisme, taqlid, bidah khurafat. Sedangkan tantangan eksternal adalah masuknya paham, konsep, sistem dan cara pandang asing seperti liberalisme, sekularisme, pluralisme agama, relativisme, feminism, gender dan lain sebagainya ke dalam wacana pemikiran keagamaan Islam. Lebih jauh beliau mengatakan bahwa akibat dari tantangan eksternal yang berupa campuran konsep-konsep asing ke dalam pemikiran dan kehidupan umat islam adalah kerancuan berfikir dan kebingungan intelektual. Akhirnya mereka yang tergiur oleh framework yang tidak sejalan dengan islam, akan melihat Islam dari sudut pandang (pandangan hidup, worldview) sekuler, liberal dan relativist.

Dengan dimikian maka kita perlu mengetahui tentang pandangan hidup (worldview) Islam. Yang akan menjadi pola fikir baru untuk menyikapi tentang apa yang terjadi pada dunia hari ini, baik dunia politik, pemerintahan, pergaulan, ekonomi, dll.

Worlview Islam

Menutut Prof.Alparslan worldview diartikan sebagai asas bagi setiap perilaku manusia, termasuk aktivitas-aktivitas ilmiah dan teknologi. Setiap aktivitas manusia akhirnya dapat dilacak pada pandangan hidupnya, dan dalam pengertian itu, maka aktivitas manusia dapat direduksi menjadi pandangan hidup.1 Sedikit berbeda dengan Al-maududi, seorang ulama islam kontemporer, beliau mengatakan worldview adalah Islâmî Nazariyat (Islamic Vision) yang berarti pandangan hidup yang dimulai dari konsep keesaan Tuhan (syahâdah) yang berimplikasi pada keseluruhan kegiatan kehidupan manusia di dunia. Sebab syahadah adalah pernyataan moral yang mendorong manusia untuk melaksanakannya dalam kehidupannya secara menyeluruh.2

Pendapat yang hampir sama dengan Al-Mauwdudi adalah pendapat Sheykh Atif al-Zayn, yang mengartikan worldview sebagai al-Mabda’ al-Islâmî (Islamic Principle) yang berarti aqîdah fikriyyah (kepercayaan yang rasional) yang berdasarkan pada akal. Hal ini disebabkan karena setiap muslim wajib beriman kepada hakikat wujud Allah, kenabian Muhammad SAW, dan kepada al-Qur’an dengan akal. Iman kepada hal-hal yang ghaib berdasarkan cara penginderaan yang diteguhkan oleh akal sehingga tidak dapat dipungkiri lagi. Iman kepada Islam sebagai dîn yang diturunkan melalui Nabi Muhammad SAW untuk mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, dengan dirinya dan lainnya.3

Masih bertumpu pada akidah, Sayyid Qutb mengartikan worldview Islam dengan istilah al-Tasawwur al-Islâmî (Islamic Vision), yang berarti akumulasi dari keyakinan asasi yang terbentuk dalam pikiran dan hati setiap muslim, yang memberi gambaran khusus tentang wujud dan apa-apa yang terdapat di balik itu.4 Hampir sejalan dengan Sayyid Qutb, Naquib al-Attas mengganti istilah worldview Islam dengan Ru’yah al-Islâm li al-wujûd yang berarti pandangan Islam tentang realitas dan kebenaran yang nampak oleh mata hati kita dan yang menjelaskan hakikat wujud; oleh karena apa yang dipancarkan Islam adalah wujud yang total, maka worldview Islam berarti pandangan Islam tentang wujud.5

Dengan beberapa pengertian worldview diatas, meskipun terdapat perbedaan dalam hal istilah, inti daripada itu semua adalah ada pandangan tersendiri dalam kacamata Islam terhadap segala sesuatu,6  yang pada intinya adalah yang dijadikan sebagai pandangan Hidup untuk menentukan kebijakan dalam semua tindakan adalah Alquran dan Sunnah Nabi SAW.

Menurut Ilmuwan Muslim Syekh Atif al-Zayn, pandangan hidup Islam ada tiga macam 1) ia berasal dari wahyu Allah, 2) berdasarkan konsep din yang tidak terpisah dari negara3) kesatuan antara spiritual dan material (sosial, budaya, ekonomi) (Syekh Atif al-Zayn, al-Islam wa Idulujiyyat al-Insan, 1989)Berdasarkan pandangan Syekh Atif, bahwa Islam worldview/pandangan hidup Islam ini melibatkan aktifitas epistimologi manusia kepada Tuhan sebab ia merupakan faktor penting dalam aktifitas penalaran manusia baik pada sosial, realitas dan aktifitas ilmiah.

Konsekuensi dari menjadikan Islam sebagai worldview atau menjalankan worldview Islam adalah timbulnya suatu pandangan baru terhadap sesuatu, misalnya dalam hal ekonomi, maka akan tampak system ekonomi Islam, yang menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Contoh berikutnya adalah berkaitan tentang pemerintahan, maka aka ada pandangan Pemerintahan Islam, dimana dengan pemerintahan itu agama tak bisa dipisahkan dengan kebijakan Negara, berbeda halnya dengan Pemerintahan Sekuler yang memisahkan Agama dan Negara. Begitu juga dengan kehidupan pergaulan atau interaksi masyarakat, maka disana akan ada pandangan tentang pergaulan Islam, yang akan mengatur interaksi antar manusia, terdapat hal yang dibolehkan dan juga tidak dibolehkan dalam pandangan Islam. Dan masih banyak pandangan-pandangan Islam yang lain berkaitan tentang dunia saat ini.

Dengan menjalankan pandagan hidup Islam / worldview Islam maka akan mengembalikan kita kepada identitas kita sebenarnya, yakni sebagai seorang Muslim. Tak bisa dipungkiri, bahwa  hari telah terdapat penyimpangan pandangan hidup, hal ini adalah dampak daripada masuknya peradaban Barat dalam tubuh umat Islam, yang lebih dikenal sebagai westernisasi. Dengan westernisasi inilah akan lahir liberalisme, sekularisme, pluralisme agama, relativisme, feminism, gender, dll. Yang dikatakan oleh DR. Hamid Fahmy Zarkasyi sebagai tantangan eksternal umat islam hari ini. Oleh karena itu, masing-masing dari kita, umat islam, harus merubah pandangan hidupnya ke pandangan hidup Islam (worldview Islam). Dan semoga dengan menjalankan pandangan hidup islam (worldview Islam), umat islam bisa kembali berjaya bangkit untuk kembali memimpin dunia, dan kembali melakukan pembebasan dari penyembahan yang batil, kepada penyembahan yang hak, yakni Allah Swt. Aamiin. Waallahu ‘alam bishawab.

Catatan Kaki =
1)   Asli Inggrisnya the foundation of all human conduct, including scientific and technological activities. Every human activity is ultimately traceable to its worldview, and as such it is reducible to that worldview. Alparslan Acikgence, “The Framework for A history of Islamic Philosophy”, Al-Shajarah, Journal of The International Institute of Islamic Thought and Civlization, vol.1. Nos. 1&2, (Kuala Lumpur: ISTAC, 1996), 6. Dikutip oleh Zarkasyi, H. F. (2013). Worldview Islam dan Kapitalisme Barat. Tsaqafah9(1), 15-38.
2)   Abu al-A’la Mawdûdî, The Process of Islamic Revolution, (Lahore, 1967), 14, 41. Dikutip oleh Zarkasyi, H. F. (2013). Worldview Islam dan Kapitalisme Barat. Tsaqafah9(1), 15-38.
3)   Shaykh Âthif al-Zayn, al-Islâm wa Idulujiyyat al-Insân, (Beirut: Dâr al- Kitâb al-Lubnânî, 1989), 13. Dikutip oleh Zarkasyi, H. F. (2013). Worldview Islam dan Kapitalisme Barat. Tsaqafah9(1), 15-38.
4)   M. Sayyid Qutb, Muqawwamât al-Tasawwur al-Islâmî, (Beirut: Dâr al-Shurûq, tt), 41. Dikutip oleh Zarkasyi, H. F. (2013). Worldview Islam dan Kapitalisme Barat. Tsaqafah9(1), 15-38.
5)   S.M.N. al-Attas, Prolegomena to The Metaphysics of Islam An Exposition of the Fundamental Element of the Worldview of Islam, (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995), 2. Dikutip oleh Zarkasyi, H. F. (2013). Worldview Islam dan Kapitalisme Barat. Tsaqafah9(1), 15-38.
6)   Zarkasyi, H. F. (2013). Worldview Islam dan Kapitalisme Barat. Tsaqafah9(1), 15-38

Daftar pustaka :
Abu al-A’la Mawdûdî, The Process of Islamic Revolution, (Lahore, 1967), 14, 41.
Alparslan Acikgence, “The Framework for A history of Islamic Philosophy”, Al-Shajarah, Journal of The International Institute of Islamic Thought and Civlization, vol.1. Nos. 1&2, (Kuala Lumpur: ISTAC, 1996), 6.
Hasan, N. (2014). Kritik Islamic Worldview Syed Muhammad Naquib al-Attas terhadap Western Worldview. Marâji: Jurnal Ilmu Keislaman1(1), 115-145.
M. Sayyid Qutb, Muqawwamât al-Tasawwur al-Islâmî, (Beirut: Dâr al-Shurûq, tt), 41.
Mustolah mansur, Orientalisme serbuan ideologis dan intelektual, {Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 1955}, cet, ke-1.
S.M.N. al-Attas, Prolegomena to The Metaphysics of Islam An Exposition of the Fundamental Element of the Worldview of Islam, (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995), 2.
Shaykh Âthif al-Zayn, al-Islâm wa Idulujiyyat al-Insân, (Beirut: Dâr al- Kitâb al-Lubnânî, 1989), 13.
Sarjuni, S. (2019). ISLAMIC WORLDVIEW DAN LAHIRNYA TRADISI ILMIAH DI INSTITUSI PENDIDIKAN ISLAM. TA'DIBUNA: Jurnal Pendidikan Agama Islam2(2), 25-43.
Zarkasyi, H. F. (2009). Liberalisasi pemikiran Islam: Gerakan bersama missionaris, orientalis dan kolonialis. TSAQAFAH5(1), 1-28.
Zarkasyi, H. F. (2013). Worldview Islam dan Kapitalisme Barat. Tsaqafah9(1), 15-38
https://www.hidayatullah.com/artikel/tsaqafah/read/2017/03/25/113812/islamic-worldview-dan-peradaban-islam.html. Diakses pada tanggal 24 Januari 2020, pukul 10.00 WIB. Di Bandar Lampung.













0 komentar:

Posting Komentar