Sabtu, 31 Agustus 2019

GURU BUKAN LAGI PAHLAWAN TANPA TANDA JASA PART II

GURU BUKAN LAGI PAHLAWAN TANPA TANDA JASA
PART II


(Kesalahan Seorang Guru)
Oleh : Noer Ar-Rasyid

Assalamualaikum Sahabat tinta peradaban dimana pun kalian berada.

Tak lupa rasa syukur mari kita panjatkan kepada Allah SWT karena berkat limpahan rahmat dan taufik nya kita masih bisa merasakan banyak sekali nikmat-Nya. Kedua kalianya sholawat beriring salam kita haturkan kepada suri tauladan kita Nabi Muhammad SAW.

Pada kesempatan kali ini kami akan meneruskan artikel yang berjudul Guru Bukan Lagi Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Part II. Artikel ini bukanlah sebuah tulisan untuk merendahkan martabat seorang guru namun artikel ini ada sebuah kajian bagaimana melihat guru dari sudut pandang yang berbeda.

Pada dasar nya guru merupakan seorang pendidik yang paham bagaiamana cara mendidik dan apa yang harus diajarkan kepada seorang murid. Namun pada nyata nya para generasi penerus yang telah menyelesaikan Pendidikan nya bukan menjadi orang yang cerdas dan bermanfaat malah menjadi sebaliknya. Oleh karena itu perlu nya kita mengkaji permasalahan ini secara mendalam, yang pada dasarnya terdapat banyak sekali yang mempengaruhi tapi secara garis besar guru menjadi factor utamanya dari permasalahan ini. Mari kita uraikan satu persatu permasalahan kenapa guru tak lagi bisa menghasilkan generasi penerus seperti yang diharapkan.

1.      Niat
Niat merupakan subtansi penting untuk memulai sebuah pekerjaan. Karena setiap pekerjaan yang kita lakukan tergantung niat nya.

 Artinya : Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907]

Namun  adakah yang salah dengan niat menjadi guru sahabat tinta peradaban. Jika niatnya menjadi guru itu bukanlah sebuah kesalahan namun yang salah adalah alasan kenapa banyak sekali orang yang berlomba-lomba menjadi guru yaitu agar menjadi PNS dengan gaji tetap dan terjamin pesangonnya. Inilah hal yang harus kita cermati. Ibnu khaldun dalam kitab muqadimmah nya beliau menulis sepenggal kalimat yang menyangkut tentang guru.

"Seorang guru adalah sosok yang lemah, miskin dan terputus dari asalnya. Banyak orang-orang lemah yang lebih menginginkan gaji yang sebenarnya mereka tidak berhak untuk menerima nya karena mereka menganggap mengajar itu sebagian bagian dari yang dapat mereka lakukan"

"Mereka tidak tahu bahwa kegiatan pengajaran pada awal islam dan pada masa dua daulah (Umayyah dan Abbasiyah) tidak termasuk dari bagian profesi kerja dan ilmu secara umum dan bukan lahan untuk mencari kerja."

Begitulah tulis ibnu khaldun dalam kitab mukadimmah nya hal 49. Oleh sebab itu jika mulai dari niat menjadi guru saja sudah menjadi kesalahan maka wajar akan berdampak pada hasil dari murid yang didik nya.

2.      Tujuan Mendidik

Dalam proses Pendidikan sekarang murid bukan lagi dituntun agar menjadi pribadi yang lurus. Walapun dalam undang-undang nomor 20 thn 2003 tentang System Pendidikan Nasional berbunyi Pendidikan berguna utk mengembangkan potensi diri untuk memiliki kekuatan spiritual, pengendalian diri, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampila yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Namun dalam proses pengaplikasikan nilai tersebut masih jauh dari tujuannya. Sebagai contoh nya adalah banyak orang yang berpendidikan tinggi tapi merekalah yang membuat permasalahan pada bangsa ini. Sehingga tidak mencerminkan hasil dari Pendidikan negri ini. Seorang pengamat politik Prof. Salim said pernah mengatakan bahwa

“Indonesia, Tuhan pun tidak ditakuti” jadi kalau anda mau tanya kenapa tidak maju kita karena tuhan pun tidak. Coba lihat orang yang masuk KPK semua berani sumpah dibawah kitab suci atau berpegang pada baibel sesudah itu dia langgar. Yang ini adalah yang tidak takut pada tuhan. Satu bangsa yang tidak ada ditakuti maka tidak akan maju.

Begitulah hasil Pendidikan kita bahwa tinggi nya ilmu tak menjadikan semakin kita semakin baik dan berguna baik bangsa ini.


3.      Metode Pembelajaran
Pada proses inilah siswa akan langsung bersentuhan langsung dengan guru. Maka sebuah metode pembelajaran perlulah sentuhan khusus, bagaimana cara mendidik seorang siswa agar bisa mengoptimalkan potensinya. Namun pada keadaan hari ini guru lebih banyak yang memberikan pelajaran teori dan tugas-tugas yang bertumpuk. Sehingga menyababkan beban bagi siswa. Kemudian minim nya pedidikan mental bagi siswa/siswi seperti dilarang merokok namun gurunya merupakan seorang perokok, murid dilarang telat namun ada guru yang telat dll. Karena sejatinya murid lebih banyak belajar dari melihat keseharian daripada mendengarkan dan melihat materi pembelajaran nya.

Mari kita kutip sebuah pelajaran yang berharga dari ibu Imam Malik Rahimahullah

Rabi'atur Ra'yi merupakan ulama terkenal pada zaman nya. Dan menjadi tujuan uatama para penuntut ilmu untuk belajar. Tidak terkecuali Malik bin Anas. Seorang remaja yang kelak akan dikenal sebagai Imam Malik Rahimahullah, peletak dasar Madzhab Maliki.

Sebuah momen penting, ketika Imam Malik akan belajar kepada Rabi'atur Ra'yi, yaitu nasehat sang Bunda. "Nak,ingatlah pesan ibu, pelajarilah olehmu adab Rabi'atur Ra'yi sebelum kau pelajari ilmunya."

Sebuah pesan singkat, namun sangat mendalam maknanya. Sejatinya, ada pesan lain yang tersirat dari pesan Bundanya Malik bin Anas, yaitu "Nak, jika kau tak temui adab pada diri Rabi'atur Ra'yi, maka kau tak perlu buang-buang waktu belajar ilmu kepadanya."

Seperti itulah sebauh potret guru yang berhasil mendidik Imam Malik Rahimahullah. Bukan hanya tinggi nya ilmu namun aplikasi terhadap ilmu itulah menjadi salah satu poin penting dalam mengajar.

Nantikan artikel kami tentang guru bukan lagi pahlawan tanpa tanda jasa part 3, insyallah akan kami kupas tentang bagaiamana menjadi guru yang dirindukan.


Salam Literasi !!!
#TintaPeradaban
#PerbaikiGenerasiDenganLiterasi
#LuruskanNiat


Catatan kaki :
1.       Al-Quran
2.      Mukaddimah Ibnu Khaldun
3.       Kitab Shahih Bukhari
4.      islamstory.com/ar/امهات-خالدات-في-التاريخ-الاسلامي


0 komentar:

Posting Komentar