Langsung ke konten utama

POTRET QURAN TERHADAP KELUARGA YANG DI RINDUKAN SURGA


POTRET QURAN TERHADAP
KELUARGA YANG DI RINDUKAN SURGA
Oleh : Yahya Abidurrahman



Keluarga merupakan satu diantara sekian banyak perhiasan dunia yang bandingannya tiada tara. Maka, Memiliki anggota keluarga yang lengkap merupakan dambaan setiap insan. Keluarga merupakan aset mahal, karena dari keluargalah peradaban dimulai dan dari keluargalah seseorang memiliki identitas social baik kedudukan ataupun pangkat yang akan dimiliki seseorang sehingga manusia yang hidup mampu mengenali dan bertahan hidup serta dihargai dan diterima dilingkungan sosialnya.

Terkadang betapa mahalnya keluarga sampai digambarkan oleh orang jawa dalam istilah yang sering kita dengar “mangan ora mangan sing penting kumpul” begitu pentingnya makna keluarga ketimbang sesuap makanan bagi suku jawa.

Disisi lain Keluarga merupakan institusi pertama (madrosatul ula) yang dikenal dan digunakan oleh manusia sebagai sarana untuk mengenali dan mengenalkan serta untuk mengetahui dan memberitahu tentang pembelajaran dasar menyoal keyakinan dasar manusia, tradisi dan budaya, serta pengetahuan tingkat dasar bagaimana bisa bertahan hidup menghadapi kerasnya kehidupan ini.



Berbicara keluarga Al-quran tidak main-main, bahkan jika keluarga tidak dikelola dengan baik maka akan menjerumuskan kedalam lembah kenistaan, sampai sampai di dalam Qs. At-Tahrim : 6 bahwa keluarga adalah hal yang urgent dan harus ditaruh perhatian penuh agar sanak keluarga tidak terkena pedihnya jilatan api neraka.

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At-Tahrim : 6 )

Disamping itu jika keluarga tidak mampu dikelola dengan baik maka akan menyebabkan datangnya murka Allah dengan memberikan sebuah tanda buruk bagi manusia sebagai orang yang faasiq, sebab istilah keluarga disebutkan terbanyak dengan bentuk jama’ (plural) di Qs. At-Taubah : 24 sebagai factor utama penghalang sifat mahabbah totalitas seorang hamba kepada Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya

Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. ( QS. At-Taubah : 24 )

Tentu saja institusi awal (madrosatul ula) ini di pimpin oleh seorang kepala keluarga yang menjadi panutan sekaligus pelindung keluarga yang sangat dinantikan kehadirannya sebagai ayah sekaligus kepala sekolah bagi madrasah yang dipimpinnya. Disamping itu, ada peranan seorang ibu selaku mentor hebat nan tangguh yang kaya akan informasi, yang hampir memiliki semua keahlian dalam segala bidang, bahkan tanpa pamrih dan kenal lelah ia memulai pembelajarannya sejak buaian sampai hayat dikandung badan yakni sampai ilahi rabbi memanggil kehadirat-Nya.

Namun perjuangan yang berat itu terkadang harus dibayar mahal dengan gagalnya keluarga dalam mempersiapkan anak-anaknya sebagai kader generasi penerus para orang tuanya, kegagalan ini bukan terjadi bukan tanpa sebab. Jika kita cermati kegagalan ini adalah kegagalan yang sistemik, dimana kurikulum yang digunakan adalah kurikulum yang bathil (salah) tidak sesuai dengan petunjuk quran dan as-sunnah, dimana strength of point dari kurikulum tersebut adalah materialistic duniawi hubbud dunnya wa karohiyatul maut (generasi yang terlalu cinta terhadap dunia dan takut mati) dan kering akan pembentukan mental aqidah sebagaimana yang diharapkan oleh Allah dan para rasul-nya yakni wamaa arsalnaaka illa annuhiya annahu laa ilaaha illa anna fa’buduun.

Kegagalan sistemik itu terlihat sudah sangat akut sebagaimana para generasi hari ini yang dinilai oleh para orang tua berbicara kesuksesan adalah bagimana ia sang anak tercinta mampu mencari pekerjaan yang elite agar bisa menaikkan taraf dan strata social keluarga-Nya, selain itu sang anak akan di pandang sukses manakala sudah berpenghasilan melebihi pendapatan keluarga-nya dan pendapatan masyarakat di kampung-nya, sehingga jika di kerucutkan bentuk parameter keberhasilan yang dinilai oleh orang tua hari ini adalah berbicara seberapa tinggi pangkat dan jabatan anaknya serta seberapa banyak kekayaan yang dimiliki sang anak.

Sedangkan islam memandang keluarga (usroh) merupakan titik tolak keberhasilan dalam membangun bangsa dan Negara. Karena rasulullah mencontohkan bagimana tahapan tahapan yang dibangun bagaimana bisa membangun baldah thayyibah (negeri yang baik) itu bermula dari syakhsyiyah thayyibah (kualitas diri yang baik) kemudian akan terbentuk usroh thayyibah (keluarga yang baik), setelah itu embrio ini terus tumbuh dan berkembang ke qoryah thoyyibah (masyarakat yang baik) sampai pada  baldah thayyibah (negeri yang baik). Sehingga dari lingkungan keluarga lah salah satu parameter keberhasilan dalam membangun peradaban yang di ridhai oleh Allah sebagaimana keberhasilan sulaiman dalam membangun negerinya baldatun thayyibatun warabbun ghofuur.


Beberapa ibroh manusia yang sukeses membangun peradabannya yang dimulai dari lingkungan keluarganya tak luput dipotret dan diabdikan oleh Allah di dalam Al-quran diantaranya yang paling masyhur adalah keluarga Ibrahim, keluarga Imran, serta keluarga luqman.


Kita mengenal keluarga ibrahim merupakan keluarga tangguh yang sukses membangun generasi setelahnya sebagai generasi penerus risalah dan nubuwat, betapa banyaknya para nabi dan rasul utasan Allah diambil dari keluarga keturunan ibrahim a.s. diantaranya ishaq as, ismail as, yaqub as. Yusuf a.s, musa as, isa a.s dan muhammad saw. Demikian pula halnya keluarga imran mampu mencetak sosok perempuan hebat yang dipercaya mampu melewati ujian berat pahit dari pedih dari Allah dengan mengandung sang jabang bayi isa as. Tanpa seorang bapak-pun.

Adapun keluarga luqman merupakan potret keluarga yang sukses, dimana parameter suskses bukan terletak pada unsur kekayaan yang berlimpah ataupun kedudukan yang tinggi dimata masyarakat, justru keluarga luqman merupakan keluarga budak hamba sahaya yang berasal dari habasyah, dimata masyarakat budak memiliki strata sosisal yang paling hina dina. Tetapi, luar biasa tangguh dan hebatnya luqman a.s membangun peradaban kecilnya itu sampai-sampai Allah mengabadikan kisah epic nan juang nya itu sebagai surah luqman.

Bagimanakah Ibrahim as, Imran, dan Luqman AS mampu mencetak generasi hebat dengan mendapatkan kedudukan mulia dihadapan Allah SWT

Nantikan di episode selanjutnya akan dikupas satu persatu insyallah.



Salam Literasi !!!
#TintaPeradaban
#PerbaikiGenerasiDenganLiterasi
#LuruskanNiat

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Inilah Adab seharusnya Kepada Kedua Orang Tua

ADAB TERHADAP ORANG TUA

Adab adalah suatu bentuk tindakan terhadap orang lain, baik berupa tindakan buruk maupun tindakan baik. Adab kita kepada orang lain tentunya sangat perlu dijaga, terlebih adab kita kepada kedua orang tua kita.

Orang tua adalah sosok yang sangat berjasa bagi kita, mereka orang yang telah merawat kita dari kecil sampai sekarang ini. Orang yang tidak pernah lelah mendidik, menjaga dan bahkan senantiasa memaafkan semua kesalahan yang kita perbuat. Oleh sebab itu perlu nya kita membalas budi mereka yang pada hakikatnya apa yang kita berikan tidak akan bisa membalas apa yang mereka perbuat kepada kita. Dalam hal yang paling kecil adalah bagaimana kita memperlakukan kedua orang kita atau bagaimana adab kita kepada beliau.

Dalam islam, adab kita terhadap kedua orang tua sangatlah diatur, bahkan sampai – sampai Allah mengaitkan hak kedua orang tua dengan hak diri-Nya yang wajib ditunaikan oleh seorang muslim. Allah berfirman :
QS.A-Isra’ : 23 -24
Artinya :(23) Dan Tuhanmu t…

Bagaimana Menyambut Ramadhan ?

Bagaimana Menyambut Ramadhan ? Oleh : Zaid Al-husna

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Alhamduillah, segala puji bagi Allah swt, Rabb bumi dan langit, yang maha mengetahui sesuatu yang ada di langit, di bumi, dan diantara keduanya, yang tampak maupun yang tidak nampak.
Apa kabar sahabat TiBan (Tinta Peradaban) ?
Semoga kita selalu dilindungi oleh Allah swt, dari semua hal yang bisa membatalkan keimanan kita kepada Allah swt.
Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada sebaik-baik manusia yang berbuka dan berpuasa, shalat malam dan tidur, yang menegakkan daulah islamiyah dan meruntuhkan daulahberhala, yakni Rasulullah saw. Semoga kita semua senantiasa teguh meniti jalan yang telah dicontohkan oleh beliau, agar kita semua bisa selamat sampai tempat tujuan yang sangat mulia, dan tidak ada tandingannya, yaitu Surganya Allah swt.
Allah swt berfirmam :

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu b…