Senin, 24 Juni 2019

POTRET QURAN TERHADAP KELUARGA YANG DI RINDUKAN SURGA


POTRET QURAN TERHADAP
KELUARGA YANG DI RINDUKAN SURGA
Oleh : Yahya Abidurrahman



Keluarga merupakan satu diantara sekian banyak perhiasan dunia yang bandingannya tiada tara. Maka, Memiliki anggota keluarga yang lengkap merupakan dambaan setiap insan. Keluarga merupakan aset mahal, karena dari keluargalah peradaban dimulai dan dari keluargalah seseorang memiliki identitas social baik kedudukan ataupun pangkat yang akan dimiliki seseorang sehingga manusia yang hidup mampu mengenali dan bertahan hidup serta dihargai dan diterima dilingkungan sosialnya.

Terkadang betapa mahalnya keluarga sampai digambarkan oleh orang jawa dalam istilah yang sering kita dengar “mangan ora mangan sing penting kumpul” begitu pentingnya makna keluarga ketimbang sesuap makanan bagi suku jawa.

Disisi lain Keluarga merupakan institusi pertama (madrosatul ula) yang dikenal dan digunakan oleh manusia sebagai sarana untuk mengenali dan mengenalkan serta untuk mengetahui dan memberitahu tentang pembelajaran dasar menyoal keyakinan dasar manusia, tradisi dan budaya, serta pengetahuan tingkat dasar bagaimana bisa bertahan hidup menghadapi kerasnya kehidupan ini.



Berbicara keluarga Al-quran tidak main-main, bahkan jika keluarga tidak dikelola dengan baik maka akan menjerumuskan kedalam lembah kenistaan, sampai sampai di dalam Qs. At-Tahrim : 6 bahwa keluarga adalah hal yang urgent dan harus ditaruh perhatian penuh agar sanak keluarga tidak terkena pedihnya jilatan api neraka.

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At-Tahrim : 6 )

Disamping itu jika keluarga tidak mampu dikelola dengan baik maka akan menyebabkan datangnya murka Allah dengan memberikan sebuah tanda buruk bagi manusia sebagai orang yang faasiq, sebab istilah keluarga disebutkan terbanyak dengan bentuk jama’ (plural) di Qs. At-Taubah : 24 sebagai factor utama penghalang sifat mahabbah totalitas seorang hamba kepada Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya

Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. ( QS. At-Taubah : 24 )

Tentu saja institusi awal (madrosatul ula) ini di pimpin oleh seorang kepala keluarga yang menjadi panutan sekaligus pelindung keluarga yang sangat dinantikan kehadirannya sebagai ayah sekaligus kepala sekolah bagi madrasah yang dipimpinnya. Disamping itu, ada peranan seorang ibu selaku mentor hebat nan tangguh yang kaya akan informasi, yang hampir memiliki semua keahlian dalam segala bidang, bahkan tanpa pamrih dan kenal lelah ia memulai pembelajarannya sejak buaian sampai hayat dikandung badan yakni sampai ilahi rabbi memanggil kehadirat-Nya.

Namun perjuangan yang berat itu terkadang harus dibayar mahal dengan gagalnya keluarga dalam mempersiapkan anak-anaknya sebagai kader generasi penerus para orang tuanya, kegagalan ini bukan terjadi bukan tanpa sebab. Jika kita cermati kegagalan ini adalah kegagalan yang sistemik, dimana kurikulum yang digunakan adalah kurikulum yang bathil (salah) tidak sesuai dengan petunjuk quran dan as-sunnah, dimana strength of point dari kurikulum tersebut adalah materialistic duniawi hubbud dunnya wa karohiyatul maut (generasi yang terlalu cinta terhadap dunia dan takut mati) dan kering akan pembentukan mental aqidah sebagaimana yang diharapkan oleh Allah dan para rasul-nya yakni wamaa arsalnaaka illa annuhiya annahu laa ilaaha illa anna fa’buduun.

Kegagalan sistemik itu terlihat sudah sangat akut sebagaimana para generasi hari ini yang dinilai oleh para orang tua berbicara kesuksesan adalah bagimana ia sang anak tercinta mampu mencari pekerjaan yang elite agar bisa menaikkan taraf dan strata social keluarga-Nya, selain itu sang anak akan di pandang sukses manakala sudah berpenghasilan melebihi pendapatan keluarga-nya dan pendapatan masyarakat di kampung-nya, sehingga jika di kerucutkan bentuk parameter keberhasilan yang dinilai oleh orang tua hari ini adalah berbicara seberapa tinggi pangkat dan jabatan anaknya serta seberapa banyak kekayaan yang dimiliki sang anak.

Sedangkan islam memandang keluarga (usroh) merupakan titik tolak keberhasilan dalam membangun bangsa dan Negara. Karena rasulullah mencontohkan bagimana tahapan tahapan yang dibangun bagaimana bisa membangun baldah thayyibah (negeri yang baik) itu bermula dari syakhsyiyah thayyibah (kualitas diri yang baik) kemudian akan terbentuk usroh thayyibah (keluarga yang baik), setelah itu embrio ini terus tumbuh dan berkembang ke qoryah thoyyibah (masyarakat yang baik) sampai pada  baldah thayyibah (negeri yang baik). Sehingga dari lingkungan keluarga lah salah satu parameter keberhasilan dalam membangun peradaban yang di ridhai oleh Allah sebagaimana keberhasilan sulaiman dalam membangun negerinya baldatun thayyibatun warabbun ghofuur.


Beberapa ibroh manusia yang sukeses membangun peradabannya yang dimulai dari lingkungan keluarganya tak luput dipotret dan diabdikan oleh Allah di dalam Al-quran diantaranya yang paling masyhur adalah keluarga Ibrahim, keluarga Imran, serta keluarga luqman.


Kita mengenal keluarga ibrahim merupakan keluarga tangguh yang sukses membangun generasi setelahnya sebagai generasi penerus risalah dan nubuwat, betapa banyaknya para nabi dan rasul utasan Allah diambil dari keluarga keturunan ibrahim a.s. diantaranya ishaq as, ismail as, yaqub as. Yusuf a.s, musa as, isa a.s dan muhammad saw. Demikian pula halnya keluarga imran mampu mencetak sosok perempuan hebat yang dipercaya mampu melewati ujian berat pahit dari pedih dari Allah dengan mengandung sang jabang bayi isa as. Tanpa seorang bapak-pun.

Adapun keluarga luqman merupakan potret keluarga yang sukses, dimana parameter suskses bukan terletak pada unsur kekayaan yang berlimpah ataupun kedudukan yang tinggi dimata masyarakat, justru keluarga luqman merupakan keluarga budak hamba sahaya yang berasal dari habasyah, dimata masyarakat budak memiliki strata sosisal yang paling hina dina. Tetapi, luar biasa tangguh dan hebatnya luqman a.s membangun peradaban kecilnya itu sampai-sampai Allah mengabadikan kisah epic nan juang nya itu sebagai surah luqman.

Bagimanakah Ibrahim as, Imran, dan Luqman AS mampu mencetak generasi hebat dengan mendapatkan kedudukan mulia dihadapan Allah SWT

Nantikan di episode selanjutnya akan dikupas satu persatu insyallah.



Salam Literasi !!!
#TintaPeradaban
#PerbaikiGenerasiDenganLiterasi
#LuruskanNiat

Rabu, 19 Juni 2019

Baca Al-Quran Yuk..


BACA AL-QURAN YUK…
ZAID AL-HUSNA



Assalamualaikum warahmatulllahi wabarakatuh,
Apa kabar sahabat Literasi ?
Sudahkah kita membaca Al-quran hari ini ?
Kalau belum, yuk kita baca bareng-bareng.





Dan kami turunkan dari Al-quran sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman …”(Q.S Al-Isra’ [17] : 82)



Artinya : “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, Yaitu Al kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(Qs Al-Ankabut [29] :  45 )



Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah, dan mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan pada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak merugi.”
(Q.S. Fathir [35] : 29)


Sudah ?
Yuk coba simak beberapa hadist dibawah ini.

Sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar Al-Quran dan mengajarkan(HR. Bukhari)

Barang siapa satu huruf dari kitab Allah SWT, maka baginya satu hasanah (kebaikan). Satu hasanah itu, pahalanya sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan bahwa alif laam miim satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.(HR. Tirdmidzi dan Darami)

Membaca Al-Quran dengan hafalan adalah seribu derajat dan membaca melihat mushaf akan dilipatgandakan sampai dua ribu derajat.”
(HR.  Baihaqi)

Sudah mencoba memahami kenapa kita harus membaca Al-Quran ?

Kalau belum yuk coba cermati yang satu ini.


Artinya : “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).....” (Q.S. Al-Baqarah [2] : 185 )

Masih kurang lagi untuk memotivasi kita dalam membaca Al-Quran,

Memang masih kurang, dan tak akan cukup bila ditulis dalam artikel ini.
Karena di dalam Al-Quran kita akan menemukan hal-hal yang sangat luar biasa, dan tak pernah kita fikir sebelumya.
Penasaran ?

Yuk kita buktikan dengan membaca Al-quran dan mentadaburinya setiap hari, serta mencoba menjalankan apa apa yang menjadi perintah di dalamnya dan menjauhi apa-apa yang menjadi larangan di dalamnya, dengan demikian insyaallah kita akan menjadi seseorang yang sangat luar biasa, bahkan kehidupan dalam kehidupan bermasyarakat kita. Karena Al-Quran sangat luar biasa.

Kenapa luar biasa ?
Karena itu adalah perkataan Rabb kita, yang telah menciptakan kita semua, dengan kasih dan sayang yang tidak pernah bisa kita hitung selamanya.

Selamat berpetualang dalam membaca Al-quran,

“Jadikan alquran sebagai kawan mu di dunia, niscahya alquran akan menjadi teman mu kelak di hari Akhirat.”(Zaid Al-husna)

Salam literasi.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

#perbaikigenerasidenganliterasi
#luruskanniat
#black_putih

Kamis, 13 Juni 2019

Ramadhan Selesai, bukan berarti Ibadah Usai


Ramadhan Selesai bukan berarti Ibadah Usai
oleh : Zaid Al-Husna


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Apa Kabar sahabat Literasi ?

Alhamdulillah, semoga kita selalu dalam naungan Hidayah Allah SWT.

Ramadhan telah berlalu, dengan nikmat yang telah diberikan Allah kepada kita, berupa kesempatan mendapati bulan Ramadhan,
Ramadhan telah berlalu, dengan semua ibadah yang telah kita lakukan sungguh-sungguh, dan berharap kita bisa mendapatkan ampunan yang Allah janjikan kepada kita, ketika kita berpuasa dengan iklas karena Allah SWT.
Dari Abu Hurairah, ia berkata,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.”  (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760).

Dengan kesungguhan yang kita lakukan semoga kita diberikan ampunan oleh Allah swt.

Agar kita tidak merugi karena telah melewati bulan Ramadhan tanpa Ampunan dari Allah swt.

Allahu akbar 3x, walilahilham
Alhamdulillah, dengan Ridho Allah kita kembali suci di awal Bulan Syawal ini,
Gembira ria menyambut hari yang fitri, seolah mendapatkan semua nikmat di muka bumi, tak hanya anak anak yang bahagia ria karena baju baru dan mainan nya, tapi orang tua pun juga bahagia karena bisa jumpa dengan sanak saudara.

Sahabat Literasi yang dimulyakan Allah swt.
Jangan sampai kebahagiaan di awal bulan ini, membuat kita lalai untuk beribadah kepada Allah SWT.

Jangan sampai Ibadah ibadah yang kita lakukan secara maksimal dan baik, hanya kita lakukan di Bulan Ramadhan saja, meskipun disaradi bahwa di Bulan Ramadhan itu Rahmat Allah sangat luar biasa, tapi jangan sampai kita hanya numpang Beriman di bulan Ramadhan saja, tapi tidak kita bawa perbekalan di bulan Ramadhan untuk bulan bulan selanjutnya sampai datang bulan ramadhan lagi.

Sahabat Literasi,
Sebagai salah satu output daripada Iedul Fitri adalah kita bisa mengembalikan lagi sesuatu kepada Fitrahnya.

Manusia fitrahnya adalah hamba, dan Rabbnya adalah Allah SWT.
Allah swt Berfirman dalam QS. Al-A’raf : 172 ,


Artinya :Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",
Sebagaimana dijelaskan oleh ayat di Atas, bahwa fitrah nya manusia adalah sebagai hamba, dan Allah adalah Rabbnya.

Dan juga dengan mengembalikan semua yang ada dalam tubuh kita untuk kembali digunaka sebagaimana fitrahnya, agar diri kita benar-benar menjadi Fitri kembali.

Terkakhir marilah kita muhasabah diri dengan ayat ini, agar kita bisa mengerti bagaimana seharusnya diri kita ketika kita kembali menjadi fitri.


   
Artinya : “dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.” (Qs Al-A’raf : 179)

Semoga dengan pendidikan yang diberikan oleh bulan Ramadhan, diri kita terhindar dari manusia-manusia yang di gambarkan oleh ayat di atas. Dan kita bisa menjadi manusia sebagaimana fitrahnya aamiin.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh