Langsung ke konten utama

Pemimpin Dalam Pandangan Islam


PEMIMPIN DALAM PANDANGAN ISLAM
Oleh : Noer Ar-Rasyid



Assalamualaikum Sahabat tinta peradaban, Setelah beberapa lama tidak riis kali ini tinta peradaban akan mengulas tentang materi yang sangat menarik yaitu Pimpinan dalam pandangan islam. Sangat sering kita dengar pesan seseorang jadilah pemimpin yang adil dan berbudi luhur. Oleh karena itu tinta peradaban akan mengulas lebih rinci terkait Pemimpin Dalam Pandangan Islam. Silahkan disimak sahabat tinta peradaban.

Pemimpin dalam arti singkat adalah seorang yang mengatur sekelompok orang untuk mencapai sebuah tujuan. Sehinga pemimpin tidak akan pernah bisa terpisahkan dalam suatu keberjalan kelompok agar kelompok tersebut bisa berjalan bersama dan sinergis dalam menyongsong tujuan bersama.
Jadi bagaiamana  pemimpin dalam sudut pandang islam???
1.  Urgensi Pemimpin
Dalam Islam pemimpin merupakan suatu peran yang sangat krusial
 Allah berfirman dalam QS 5:51

Artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, Maka Sesungguhnya orang itu Termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS Almaidah : 51)


Dalam ayat tersebut sangatlah jelas bahwa islam mengajarkan kita untuk mengangkat seorang pemimpin yang bukan dari golongan yahudi dan nasrani melainkan angkatlah pemimpin dari golongan orang beriman. Bahkan urusan pemimpin akan berlanjut sampai di hari akhir untuk di pertanggung jawabkan dalam QS 17:71

  
Artinya :
“(ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya; dan Barangsiapa yang diberikan kitab amalannya di tangan kanannya Maka mereka ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikitpun.” ( QS. Al-Israa : 71 )

Dari ayat diatas bahwasanya kita harus sangat memperhatikan bagaimana memilih seorang pemimpin diantara kita.
2.  Kritria pemimpin dalam pandangan islam
Kriteria pemimpin sangat lah perlu diperhatikan supaya setidaknya ketika kita memilih seorang pemimpin kita dapat memilih orang yang paling sedikit kekurangannya. Islam pernah mengajarkan kepada kita melalui sejarah dua sahabat nabi yang sangat mulia yaitu Amr bin Ash dan abu dzar al-ghifari

Kisah Abu dzar al-ghifari ra suatu ketika beliau berkata kepada Rosulullah SAW “wahai Rasulullah tidakkah engkau menjadikan ku sebagai pemimpin?” mendengar perkataan seperti itu Rosulullah bersabda : “wahai abu dzar, engkau seorang yang lemah dan aku menyukai untukmu apa yang kusukai untuk diriku. Janganlah sekali-kali engkau memimpin dua orang dan jangan sekali-kali engkau menguasai pengurusan harta anak yatim.” (HR. Muslim no.1826)

Dalam hadist tersebut yang dimaksud bahwa abu dzar lemah saat menjadi pemimpin karena tingkat zuhud beliau sangat luar biasa sehingga menjadikan beliau tak bisa menjadi seorang pemimpin yang bisa mengurusi semua keperluan umat. Dan  lemah tersebut bukan suatu lemah fisik maupun lemah keilmuannya karena Abu dzar al-ghifari ra merupakan sahabat yang sangat mulia dan banyak pujian yang di berikan dari para sahabat bahwa dia adalah sosok yang penuh dengan ilmu. Dan bahkan Rosulullah SAW pun ikut menyanjung beliau karena karena kejujuran nya. Namun tidak membuat abu dzar bisa menjadi sosok pemimpin yang baik.


Kemudian beda lagi dengan kisah sahabat mulia yaitu amr bin ash, salah satu sahabat Rasulullah SAW yang terakhir memeluk islam. Amr bin Ash memiliki sejarah yang luar biasa ketika beliau sudah masuk islam yaitu menjadi pembebas mesir. Sosok Amr bin ash mempunyai banyak sekali kelebihan dalam bidang kepemimpinan dibuktikan dengan bekal yang sangat luar biasa saat menjadi panglima perang dan seorang diploma yang sangat luar biasa. Sehingga dengan bakat yang ada dalam diri amr bin ash dan dengan segala sejarah yang beliau capai Umar bin khatab ra berkata
 “Tidak pantas bagi abu abdillah (Amr bin Ash) berjalan dimuka bumi ini kecuali sebagai pemimpin”(Tarikh Dimasyq oleh ibnu Asakir).

Dari dua kisah tersebut kita dapat mengambil pelajaran bahwa utk menjadi pemimpin bukan hanya sekedar perlu ilmu dan keimanan yang kuat saja namun perlu kemampuan bagaimana kita bisa mengatur semua keperluan umat.

3.  Tugas Seorang Pemimpin
Seorang pemimpin sebenarnya mempunyai tugas yang sangatlah banyak namun secara garis besar dalam islam dapat dikecilkan menjadi dua bagian menurut ibnu khaldun yaitu :
a.  Iqomatud Din (Menegakkan Agama)
merupakan suatu tugas dari seorang pemimpin bagaimana menjalankan semua perintah Allah,  melarang apa yg tidak diperbolehkan dalam islam dan menjaga kemurnian Agama sehinggga terjauh dari  perbuatan yang mengada-ada.
b.  Saiyasatud dunya bihi (Mengatur Urusan Umat dengan Agama)
Dalam hal ini tugas pemimpin adalah mengatur segala urusan umat menggunakan syariat  islam sebagaimana mestinya. Sehingga dalam berjalannya suatu tatanan kehidupan bisa terjaga dari perbuatan yang menyimpang ataupun merugikan pihak lain dan menjadikan kehidupan manusia semakin  dekat dengan rabb-Nya.

Seperti itulah urain yang bisa tinta peradaban jelaskan mengenai “Pemimpin Dalam Pandangan Islam”. Semoga Allah dapat memandaikan kita untuk menjadi pemimpin setidaknya bagi diri kita sendiri hehe.   

Sekian penjumpaan kita kali ini Sahabat Tinta Peradaban. Terimakasih sudah menyempatkan waktu nya untuk membaca. Semoga tulisan yang kami berikan bermanfaat bagi kawan tinta peradaban dan jangan lupa share ke teman-teman yang lain.

See you next time. Wasalamualaikum wr wb

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Inilah Adab seharusnya Kepada Kedua Orang Tua

ADAB TERHADAP ORANG TUA

Adab adalah suatu bentuk tindakan terhadap orang lain, baik berupa tindakan buruk maupun tindakan baik. Adab kita kepada orang lain tentunya sangat perlu dijaga, terlebih adab kita kepada kedua orang tua kita.

Orang tua adalah sosok yang sangat berjasa bagi kita, mereka orang yang telah merawat kita dari kecil sampai sekarang ini. Orang yang tidak pernah lelah mendidik, menjaga dan bahkan senantiasa memaafkan semua kesalahan yang kita perbuat. Oleh sebab itu perlu nya kita membalas budi mereka yang pada hakikatnya apa yang kita berikan tidak akan bisa membalas apa yang mereka perbuat kepada kita. Dalam hal yang paling kecil adalah bagaimana kita memperlakukan kedua orang kita atau bagaimana adab kita kepada beliau.

Dalam islam, adab kita terhadap kedua orang tua sangatlah diatur, bahkan sampai – sampai Allah mengaitkan hak kedua orang tua dengan hak diri-Nya yang wajib ditunaikan oleh seorang muslim. Allah berfirman :
QS.A-Isra’ : 23 -24
Artinya :(23) Dan Tuhanmu t…

Bagaimana Menyambut Ramadhan ?

Bagaimana Menyambut Ramadhan ? Oleh : Zaid Al-husna

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Alhamduillah, segala puji bagi Allah swt, Rabb bumi dan langit, yang maha mengetahui sesuatu yang ada di langit, di bumi, dan diantara keduanya, yang tampak maupun yang tidak nampak.
Apa kabar sahabat TiBan (Tinta Peradaban) ?
Semoga kita selalu dilindungi oleh Allah swt, dari semua hal yang bisa membatalkan keimanan kita kepada Allah swt.
Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada sebaik-baik manusia yang berbuka dan berpuasa, shalat malam dan tidur, yang menegakkan daulah islamiyah dan meruntuhkan daulahberhala, yakni Rasulullah saw. Semoga kita semua senantiasa teguh meniti jalan yang telah dicontohkan oleh beliau, agar kita semua bisa selamat sampai tempat tujuan yang sangat mulia, dan tidak ada tandingannya, yaitu Surganya Allah swt.
Allah swt berfirmam :

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu b…

POTRET QURAN TERHADAP KELUARGA YANG DI RINDUKAN SURGA

POTRET QURAN TERHADAP KELUARGA YANG DI RINDUKAN SURGA Oleh : Yahya Abidurrahman


Keluarga merupakan satu diantara sekian banyak perhiasan dunia yang bandingannya tiada tara. Maka, Memiliki anggota keluarga yang lengkap merupakan dambaan setiap insan. Keluarga merupakan aset mahal, karena dari keluargalah peradaban dimulai dan dari keluargalah seseorang memiliki identitas social baik kedudukan ataupun pangkat yang akan dimiliki seseorang sehingga manusia yang hidup mampu mengenali dan bertahan hidup serta dihargai dan diterima dilingkungan sosialnya.

Terkadang betapa mahalnya keluarga sampai digambarkan oleh orang jawa dalam istilah yang sering kita dengar “mangan ora mangan sing penting kumpul” begitu pentingnya makna keluarga ketimbang sesuap makanan bagi suku jawa.

Disisi lain Keluarga merupakan institusi pertama (madrosatul ula) yang dikenal dan digunakan oleh manusia sebagai sarana untuk mengenali dan mengenalkan serta untuk mengetahui dan memberitahu tentang pembelajaran dasar menyoal…