Langsung ke konten utama

Bagaimana Menyambut Ramadhan ?


Bagaimana Menyambut Ramadhan ?
Oleh : Zaid Al-husna


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Alhamduillah, segala puji bagi Allah swt, Rabb bumi dan langit, yang maha mengetahui sesuatu yang ada di langit, di bumi, dan diantara keduanya, yang tampak maupun yang tidak nampak.

Apa kabar sahabat TiBan (Tinta Peradaban) ?

Semoga kita selalu dilindungi oleh Allah swt, dari semua hal yang bisa membatalkan keimanan kita kepada Allah swt.

Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada sebaik-baik manusia yang berbuka dan berpuasa, shalat malam dan tidur, yang menegakkan daulah islamiyah dan meruntuhkan daulah  berhala, yakni Rasulullah saw. Semoga kita semua senantiasa teguh meniti jalan yang telah dicontohkan oleh beliau, agar kita semua bisa selamat sampai tempat tujuan yang sangat mulia, dan tidak ada tandingannya, yaitu Surganya Allah swt.

Allah swt berfirmam :


Artinya :
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS. Al-baqarah : 183)

Alhamdulillah, insyaallah sebentar lagi kita akan menjumpai suatu bulan yang sangat mulia, yang senantiasa dinantikan oleh Rasulullah saw, dan juga sahabat-sahabantnya dulu, dan juga seluruh umat Muslim di Dunia saat ini. Yakni Bulan Ramadhan.

Dalam menyambut bulan yang sangat mulia ini, tentunya akan didapati dua sifat manusia yang tentunya pasti ada, yang pertama adalah sifat manusia yang sangat bahagia menyambut ramadhan, dengan penuh semangat dalam hati untuk mempersiapkan diri agar bisa totalitas memanfaatkan waktu di Bulan Ramadhan. Sifat yang kedua adalah sifat acuh dalam menghadapi bulan ramadhan, hal ini disebabka karena dirinya hanya menganggap ramadhan hanya event tahunan, dan tidak berarti apa-apa di dalam dirinya selain daripada rasa beban karena dia harus berpuasa dalam satu bulan penuh.

Tentunya kita semua ingin memiliki sifat yang pertama, agar kita tidak rugi, begitupun yang dilakukan oleh Rasulullah dan juga para sahabat serta para ulama dalam menyambut ramadhan.

Rasulullah saw, manusia yang paling sempurna di bumi, manusia yang langsung di bimbing oleh Allah swt dalam setiap tindakan dan perbuatannya adalah sosok yang wajib bagi kita untuk mencontoh seluruh perbuatan yang dilakukannya.
Dengan sabda beliau semua perkataan manusia diukur kebenarannya, dengan amalan-amalan beliau, semua amalan yang dilakukan akan diputuskan, apakah menjadi amalan yang diterima atau amalan yang tidak diterima.
Allah swt  berfirman :
  
Artinya :
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (Qs. Al ahzab : 21)

Sungguh orang-orang yang beriman yang selalu mengikuti beliau adalah orang-orang yang mulia di mata Allah swt.

Rasululullah saw bersabda :
“ Ya Allah! Perlihatkanlah kepada kami hilal (bulan sabit) kepada  kami dengan keberkahan dan iman;  keselamatan dan islam. Rabb-ku dan Rabb-mu (wahai hilal) adalah Allah”

Alangkah indah kilauan tauhid, dan alangkah indahnya sentuhan akidah dalam menyambut bulan Ramadhhan. Hal itu dapat dilihat dari ucapan beliau (Rabb-ku dan Rabb-mu (wahai hilal) adalah Allah) kepada bulan di langit, yang kala itu banyak orang yang menyembahnya.

Ramadaan adalah kesempatan yang termahal dan tak tergantikan, salah satu kesempatan diantara sekiann banyak kesempatan emas di dalam kehidupan seorang muslim.

Pada setiap malamnya, Allah membebaskan seratus ribu orang yang berhak dimasukkan kedalam neraka, dan pada malam yang terkahir, Allah membebaskan manusia sejumlah orang yang Dia bebaskan pada malam-malam sebelumnya!”

Rasulullah adalah manusia yang paling dermawan ketika bulan Ramadhan, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Syaikhani, Ibnu Abbas r.a :

“ Rasulullah saw adalah manusia paling dermawan, dan saat yang beliau paling dermawan adalah pada bulan Ramadhan yaitu, kketika Jibril menemui beliau lallu mengajarkannnya Al-Quran, sungguh Rasulullah adalah yang p’aling dermawan terhadap kebaikan daripada Ar-Rih Al-Mursalah (angin yang berhembus).” ( Diriwayatkan oleh Albukhari ).

Demikian juga dengan para sahabat dan juga ulama-ulama besar ketika mereka mendapati bulan Ramadhan, maka hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan dirinya akan dinomor duakan, mereka akan berhenti sementara waktu dari berfatwa, mengajar, dan yang lain. Mereka akan lebih menghabiskan waktunya untuk mengkaji ilmu-ilmu Al-quran, dengan Al-quran itu mereka mengobati luka-luka dalam hatinya.


Terakhir, marilah kita merenungi isi ceramah Rasulullah saw di hadapan para sahaba di akhir bulan Sya’ban yang diriwayatkan oleh Salman Al-farisi, beliau bersabda :


“Wahai sekalian manusia. Kalian akan dinaungi oleh bulan yang agung nan penuh berkah. Padanya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu malam. Allah menjadikan puasa di bulan itu sebagai kewajiban dan qiyamnya sebagai perbuatan sunnah. Siapa yang mendekatkan diri kepada-Nya dengan amal kebaikan seolah-olah ia telah melakukan kewajiban di bulan lain. Dan barangsiapa melakukan kewajiban pada bulan itu maka ia seolah telah melakukan tujuh puluh kewajiban di bulan lain. Ia adalah bulan kesabaran dan kesabaran itu adalah jalan menuju surga. Ia adalah bulan keteladanan dan bulan dimana rezki dimudahkan bagi orang mukmin. Siapa memberi buka kepada orang yang berpuasa maka ia mendapatkan ampunan atas dosa-dosanya dan lehernya diselamatkan dari api neraka. Ia juga mendapatkan pahalanya tanpa mengurangi pahala orang itu sedikit pun.” Sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, tidak semua kita bisa memberi buka bagi orang puasa.” Rasulullah menjawab, “Allah memberi pahala yang sama kepada orang yang memberi buka walau sekadar kurma dan seteguk air atau seteguk air susu. Ia adalah bulan dimana permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan, dan ujungnya diselamatkannya seseorang dari neraka. Barangsiapa meringankan budaknya Allah mengampuninya dan membebaskannya dari neraka. Perbanyaklah kalian melakukan empat hal: dua hal pertama Allah ridha kepada kalian, yaitu mengucapkan syahadat tiada ilah selain Allah dan meminta ampunan kepada-Nya. Sedangkan hal berikutnya adalah yang kalian pasti membutuhkannya; yaitu agar kalian meminta surga kepada Allah dan berlindung kepada-Nya dari neraka. Barangsiapa memberi minum orang berpuasa maka Allah akan memberinya minum dari telagaku yang tidak akan pernah haus sampai dia masuk ke dalam surga.” (Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)

Subhanallah, sangat luar biasa sekali persiapan dan juga tindakan-tindakan yang dilakukan Rasullullah saw, dan juga para sahabat berikut juga para tabi’in, Yuk mulai kita susun strategi kita untuk menghadapi bulan yang sangat mulia ini, Ramadhan.

“Bila ujian dalam dunia mu selalu kau siapkan dengan penuh daya dan upaya, lalu adakah alasan untuk mempersiapkan untuk hal yang kita akan berada selamanya, Akhirat.” (Zaid Al-Husna)

Yuklah semangat menyambut Ramadhan. Bismillahirrahmanirrahim...



Sumber :
1. Buku : Ramadhan, agar tak sekedar lapar dan dahaga (DR. A’idh Al-Qarni, M.A)
2.http://www.dakwatuna.com/2013/07/02/36097/cara-sahabat-menyambut-ramadhan/#ixzz5m1c3QySq 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Inilah Adab seharusnya Kepada Kedua Orang Tua

ADAB TERHADAP ORANG TUA

Adab adalah suatu bentuk tindakan terhadap orang lain, baik berupa tindakan buruk maupun tindakan baik. Adab kita kepada orang lain tentunya sangat perlu dijaga, terlebih adab kita kepada kedua orang tua kita.

Orang tua adalah sosok yang sangat berjasa bagi kita, mereka orang yang telah merawat kita dari kecil sampai sekarang ini. Orang yang tidak pernah lelah mendidik, menjaga dan bahkan senantiasa memaafkan semua kesalahan yang kita perbuat. Oleh sebab itu perlu nya kita membalas budi mereka yang pada hakikatnya apa yang kita berikan tidak akan bisa membalas apa yang mereka perbuat kepada kita. Dalam hal yang paling kecil adalah bagaimana kita memperlakukan kedua orang kita atau bagaimana adab kita kepada beliau.

Dalam islam, adab kita terhadap kedua orang tua sangatlah diatur, bahkan sampai – sampai Allah mengaitkan hak kedua orang tua dengan hak diri-Nya yang wajib ditunaikan oleh seorang muslim. Allah berfirman :
QS.A-Isra’ : 23 -24
Artinya :(23) Dan Tuhanmu t…

POTRET QURAN TERHADAP KELUARGA YANG DI RINDUKAN SURGA

POTRET QURAN TERHADAP KELUARGA YANG DI RINDUKAN SURGA Oleh : Yahya Abidurrahman


Keluarga merupakan satu diantara sekian banyak perhiasan dunia yang bandingannya tiada tara. Maka, Memiliki anggota keluarga yang lengkap merupakan dambaan setiap insan. Keluarga merupakan aset mahal, karena dari keluargalah peradaban dimulai dan dari keluargalah seseorang memiliki identitas social baik kedudukan ataupun pangkat yang akan dimiliki seseorang sehingga manusia yang hidup mampu mengenali dan bertahan hidup serta dihargai dan diterima dilingkungan sosialnya.

Terkadang betapa mahalnya keluarga sampai digambarkan oleh orang jawa dalam istilah yang sering kita dengar “mangan ora mangan sing penting kumpul” begitu pentingnya makna keluarga ketimbang sesuap makanan bagi suku jawa.

Disisi lain Keluarga merupakan institusi pertama (madrosatul ula) yang dikenal dan digunakan oleh manusia sebagai sarana untuk mengenali dan mengenalkan serta untuk mengetahui dan memberitahu tentang pembelajaran dasar menyoal…