Jumat, 26 April 2019

Memahami Hakikat Hidayah

MEMAHAMI HAKIKAT HIDAYAH
(Noer Ar-Rasyid)




Assalamualaikum Sahabat tinta peradaban, Bagaimana Kabarnya??? Semoga kita senantiasa dalam lindungan Allah SWT.
Pada kesempatan kali ini tinta peradaban akan membahas hal yang sederhana namun seringkali kita lupa untuk mensyukurinya yaitu perkara hidayah. Mari disimak sahabat tinta peradaban bagaimana seharusnya kita menjadikan hidayah suatu yang sangat penting bagi kita.

1.      Apa Itu Hidayah
Hidayah merupakan suatu sebab kebaikan yang diberikan Allah SAW kepada kita, sehingga kita menjadi orang yang sangat beruntung jika bisa mendapatkan nya. Karena kebaikan atau keselamatan sebenarnya didunia maupun diakhirat sangat bergantung dengan hidayah yang Allah berikan kepada kita.
Allah berfirman:


 Artinya :“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, Maka Dialah yang mendapat petunjuk; dan Barangsiapa yang disesatkan Allah, Maka merekalah orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Aaraf : 178)


Artinya:“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, Maka Dialah yang mendapat petunjuk; dan Barangsiapa yang disesatkan-Nya, Maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya”. (QS. Al-kahf : 17)


2.      Pentingnya Hidayah Bagi Manusia
Dari dua firman Allah SAW diatas kita sedikit nya sudah memahami bahwa suatu kerugian yang amat besar jika hidayah itu tak bisa kita dapatkan. Karena itu dalam syariat kita sholat kita senantiasa untuk meminta hidayah yaitu dalam surat Al-Fatihah.

Artinya :
“ Tunjukilah[8] Kami jalan yang lurus” (QS. Al-Fatihah : 6)
[8] Ihdina (tunjukilah kami), dari kata hidayaat: memberi petunjuk ke suatu jalan yang benar. yang dimaksud dengan ayat ini bukan sekedar memberi hidayah saja, tetapi juga memberi taufik


 Kemudian Ibnu Katsir berkata kenapa soerang muslim senantiasa meminta hidayah diwaktu sholat, siang dan malam hari, tua maupun muda. Karena sejatinya kalaulah bukan karena kebutuhan seorang mukmin di siang dan malam untuk memohon hidayah maka Allah tidak akan memerintahkan hal itu kepadanya. Karena sesungguhnya seorang hamba di setiap waktu dalam keadaan sangat membutuhkan pertolongan Allah Ta’ala untuk menetapkan dan meneguhkan dirinya di atas hidayah-Nya, juga membukakan mata hatinya, menambahkan kesempurnaan dan keistiqamahan dirinya di atas hidayah-Nya.Sungguh seorang hamba tidak memiliki (kemampuan memberi) kebaikan atau keburukan bagi dirinya sendiri kecuali dengan kehendak-Nya, maka Allah Ta’ala membimbingnya untuk (selalu) memohon kepada-Nya di setiap waktu untuk menganugerahkan kepadanya pertolongan, keteguhan dan taufik-Nya.


3.      Apakah Hidayah Hanya Untuk Beberapa Orang Saja?
Di sekitar kita pasti sering melihat bahwa banyak orang yang menunda untuk berubah menjadi lebih baik dengan alasan belum mendapat hidayah. Bagaimana menurut sahabat tinta peradaban apakah benar kalau belum mendapatkan hidayah?
Dalam paparan singkat yang diberikan ust Adi hidayat lc mengenai tema Hidayah insyaAllah akan menjelaskan permasalahan diatas. Hidayah merupakan suatu hal yang pasti diberikan Allah SWT kepada hamba-Nya walaupun itu kepada Hamba-Nya yang sangat dzolim seperti fir’aun,
Allah berfirman :

Artinya :“Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, Sesungguhnya Dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut". (QS. Taha : 43-44)


Dalam ayat diatas menerangkan bahwa fir’aun telah di berikan suatu hidayah bahkan melalui dua orang Nabi Musa dan Nabi Harun sekaligus namun karena kesombongan nya fir’aun menutup diri dari dan enggan menerima nya. Sehingga fir’aun diberi Azab di tenggelamkan Allah di laut merah, bayangkan fir’aun pernah berbuat membunuh bahkan melakukan dosa terbesar yaitu berbuat syirik yaitu mengaku sebagai tuhan. Bagaimana mungkin Allah SWT tak memberikan hidayah kepada hamba-Nya, hanya saja persoalannya adalah mau atau tidak kita menerima hidayah itu.

Seperti itulah paparan yang bisa tinta peradaban jelaskan mengenai Memahami Hakikat Hidayah. Semoga Allah mengistiqomahkan kita berada dijalan yang haq.   

Sekian penjumpaan kita kali ini Sahabat Tinta Peradaban. Terimakasih sudah menyempatkan waktu nya untuk membaca. Semoga tulisan yang kami berikan bisa bermanfaat bagi kawan tinta peradaban dan jangan lupa share ke teman-teman yang lain supaya lebih banyak yang tau lebih banyak pahala yang di dapatkan.

Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh..



Catatan Kaki:
1. Al-Quran 
2. Kitab "Tafsir Ibnu Katsir"

Rabu, 24 April 2019

Bagaimana Menyambut Ramadhan ?


Bagaimana Menyambut Ramadhan ?
Oleh : Zaid Al-husna


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Alhamduillah, segala puji bagi Allah swt, Rabb bumi dan langit, yang maha mengetahui sesuatu yang ada di langit, di bumi, dan diantara keduanya, yang tampak maupun yang tidak nampak.

Apa kabar sahabat TiBan (Tinta Peradaban) ?

Semoga kita selalu dilindungi oleh Allah swt, dari semua hal yang bisa membatalkan keimanan kita kepada Allah swt.

Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada sebaik-baik manusia yang berbuka dan berpuasa, shalat malam dan tidur, yang menegakkan daulah islamiyah dan meruntuhkan daulah  berhala, yakni Rasulullah saw. Semoga kita semua senantiasa teguh meniti jalan yang telah dicontohkan oleh beliau, agar kita semua bisa selamat sampai tempat tujuan yang sangat mulia, dan tidak ada tandingannya, yaitu Surganya Allah swt.

Allah swt berfirmam :


Artinya :
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS. Al-baqarah : 183)

Alhamdulillah, insyaallah sebentar lagi kita akan menjumpai suatu bulan yang sangat mulia, yang senantiasa dinantikan oleh Rasulullah saw, dan juga sahabat-sahabantnya dulu, dan juga seluruh umat Muslim di Dunia saat ini. Yakni Bulan Ramadhan.

Dalam menyambut bulan yang sangat mulia ini, tentunya akan didapati dua sifat manusia yang tentunya pasti ada, yang pertama adalah sifat manusia yang sangat bahagia menyambut ramadhan, dengan penuh semangat dalam hati untuk mempersiapkan diri agar bisa totalitas memanfaatkan waktu di Bulan Ramadhan. Sifat yang kedua adalah sifat acuh dalam menghadapi bulan ramadhan, hal ini disebabka karena dirinya hanya menganggap ramadhan hanya event tahunan, dan tidak berarti apa-apa di dalam dirinya selain daripada rasa beban karena dia harus berpuasa dalam satu bulan penuh.

Tentunya kita semua ingin memiliki sifat yang pertama, agar kita tidak rugi, begitupun yang dilakukan oleh Rasulullah dan juga para sahabat serta para ulama dalam menyambut ramadhan.

Rasulullah saw, manusia yang paling sempurna di bumi, manusia yang langsung di bimbing oleh Allah swt dalam setiap tindakan dan perbuatannya adalah sosok yang wajib bagi kita untuk mencontoh seluruh perbuatan yang dilakukannya.
Dengan sabda beliau semua perkataan manusia diukur kebenarannya, dengan amalan-amalan beliau, semua amalan yang dilakukan akan diputuskan, apakah menjadi amalan yang diterima atau amalan yang tidak diterima.
Allah swt  berfirman :
  
Artinya :
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (Qs. Al ahzab : 21)

Sungguh orang-orang yang beriman yang selalu mengikuti beliau adalah orang-orang yang mulia di mata Allah swt.

Rasululullah saw bersabda :
“ Ya Allah! Perlihatkanlah kepada kami hilal (bulan sabit) kepada  kami dengan keberkahan dan iman;  keselamatan dan islam. Rabb-ku dan Rabb-mu (wahai hilal) adalah Allah”

Alangkah indah kilauan tauhid, dan alangkah indahnya sentuhan akidah dalam menyambut bulan Ramadhhan. Hal itu dapat dilihat dari ucapan beliau (Rabb-ku dan Rabb-mu (wahai hilal) adalah Allah) kepada bulan di langit, yang kala itu banyak orang yang menyembahnya.

Ramadaan adalah kesempatan yang termahal dan tak tergantikan, salah satu kesempatan diantara sekiann banyak kesempatan emas di dalam kehidupan seorang muslim.

Pada setiap malamnya, Allah membebaskan seratus ribu orang yang berhak dimasukkan kedalam neraka, dan pada malam yang terkahir, Allah membebaskan manusia sejumlah orang yang Dia bebaskan pada malam-malam sebelumnya!”

Rasulullah adalah manusia yang paling dermawan ketika bulan Ramadhan, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Syaikhani, Ibnu Abbas r.a :

“ Rasulullah saw adalah manusia paling dermawan, dan saat yang beliau paling dermawan adalah pada bulan Ramadhan yaitu, kketika Jibril menemui beliau lallu mengajarkannnya Al-Quran, sungguh Rasulullah adalah yang p’aling dermawan terhadap kebaikan daripada Ar-Rih Al-Mursalah (angin yang berhembus).” ( Diriwayatkan oleh Albukhari ).

Demikian juga dengan para sahabat dan juga ulama-ulama besar ketika mereka mendapati bulan Ramadhan, maka hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan dirinya akan dinomor duakan, mereka akan berhenti sementara waktu dari berfatwa, mengajar, dan yang lain. Mereka akan lebih menghabiskan waktunya untuk mengkaji ilmu-ilmu Al-quran, dengan Al-quran itu mereka mengobati luka-luka dalam hatinya.


Terakhir, marilah kita merenungi isi ceramah Rasulullah saw di hadapan para sahaba di akhir bulan Sya’ban yang diriwayatkan oleh Salman Al-farisi, beliau bersabda :


“Wahai sekalian manusia. Kalian akan dinaungi oleh bulan yang agung nan penuh berkah. Padanya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu malam. Allah menjadikan puasa di bulan itu sebagai kewajiban dan qiyamnya sebagai perbuatan sunnah. Siapa yang mendekatkan diri kepada-Nya dengan amal kebaikan seolah-olah ia telah melakukan kewajiban di bulan lain. Dan barangsiapa melakukan kewajiban pada bulan itu maka ia seolah telah melakukan tujuh puluh kewajiban di bulan lain. Ia adalah bulan kesabaran dan kesabaran itu adalah jalan menuju surga. Ia adalah bulan keteladanan dan bulan dimana rezki dimudahkan bagi orang mukmin. Siapa memberi buka kepada orang yang berpuasa maka ia mendapatkan ampunan atas dosa-dosanya dan lehernya diselamatkan dari api neraka. Ia juga mendapatkan pahalanya tanpa mengurangi pahala orang itu sedikit pun.” Sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, tidak semua kita bisa memberi buka bagi orang puasa.” Rasulullah menjawab, “Allah memberi pahala yang sama kepada orang yang memberi buka walau sekadar kurma dan seteguk air atau seteguk air susu. Ia adalah bulan dimana permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan, dan ujungnya diselamatkannya seseorang dari neraka. Barangsiapa meringankan budaknya Allah mengampuninya dan membebaskannya dari neraka. Perbanyaklah kalian melakukan empat hal: dua hal pertama Allah ridha kepada kalian, yaitu mengucapkan syahadat tiada ilah selain Allah dan meminta ampunan kepada-Nya. Sedangkan hal berikutnya adalah yang kalian pasti membutuhkannya; yaitu agar kalian meminta surga kepada Allah dan berlindung kepada-Nya dari neraka. Barangsiapa memberi minum orang berpuasa maka Allah akan memberinya minum dari telagaku yang tidak akan pernah haus sampai dia masuk ke dalam surga.” (Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)

Subhanallah, sangat luar biasa sekali persiapan dan juga tindakan-tindakan yang dilakukan Rasullullah saw, dan juga para sahabat berikut juga para tabi’in, Yuk mulai kita susun strategi kita untuk menghadapi bulan yang sangat mulia ini, Ramadhan.

“Bila ujian dalam dunia mu selalu kau siapkan dengan penuh daya dan upaya, lalu adakah alasan untuk mempersiapkan untuk hal yang kita akan berada selamanya, Akhirat.” (Zaid Al-Husna)

Yuklah semangat menyambut Ramadhan. Bismillahirrahmanirrahim...



Sumber :
1. Buku : Ramadhan, agar tak sekedar lapar dan dahaga (DR. A’idh Al-Qarni, M.A)
2.http://www.dakwatuna.com/2013/07/02/36097/cara-sahabat-menyambut-ramadhan/#ixzz5m1c3QySq 




Selasa, 23 April 2019

Adab dan Sunah Ketika Berpuasa


Adab dan Sunah Ketika Berpuasa
Oleh : Zaid Al-Husna



Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Apa kabar Sahabat Tinta Peradaban ?,
Alhamdulillah sekarang kita sudah berada di Akhir bulan Rajab 1440 Hijriah, yang insyaallah 1 bulan lagi kita akan menjumpai bulan yang sangat mulia dan sangat dinanti oleh seluruh umat islam di dunia, yakni bulan Ramadhan. Dan semoga kita disampaikan untuk menjumpai nya, dan beribadah dengan baik di bulan Ramadhan.

Salah satu hal yang tak mungkin akan hilang ketika membicarakan bulan Ramadhan adalah puasa di bulan itu, sebagaimana yang telah kita bahas di artikel sebelumnya mengenai Kewajiban dan Keutamaan puasa Ramadhan. Yang tentunya itu menjadi landasan kita dalam menjalankan ibadah puasa Ramadhan.

Dan dalam kesempatan yang indah ini, kita masih melanjutkan pembahasan mengenai Puasa Ramadhan, yakni mengenai sunnah dan adab dalam berpuasa. Yang tentunya dengan sunnah dan adab ini, bisa menjadikan puasa kita lebih greget dan insyaallah bisa menjadi penyempurna puasa Ramadhan. aamiin

Adapun Sunnah dan Adab dalam berpuasa adalah sebagai berikut :

1.      Sahur, berbuka dan berdo’a.
a.) Menunaikan Sahur.
Nah, bagi sahabat TiBan yang masih sering nggak sahur, terutama anak kost, mungkin hadist ini bisa membuat kita semangat untuk menunaikan Sahur.
Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa salam bersabda :
تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً”Bersahurlah karena di dalam sahur itu adalah berkah.” (muttafaq ’alaihi)
b.) Menyegerakan berbuka.
Kalau sudah waktunya berbuka, jangan ditunda-tunda ya. hehe
Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa salam bersabda :
لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ
”Manusia senantiasa dalam keadaan baik selama mereka menyegerakan berbuka.” (muttafaq ’alaihi)
c.) Berbuka dengan beberapa Kurma atau menenggak seteguk air sebelum menunaikan shalat.
 Hadits Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa salam :
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تُمَيْرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تُمَيْرَاتٍ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ
”Adalah Nabi Shallallahu ’alaihi wa salam berbuka sebelum menunaikan sholat dengan beberapa ruthob (kurma basah), dan apabila tidak memiliki ruthob beliau berbuka dengan beberapa tamr (kurma kering), dan apabila tidak memiliki tamr beliau berbuka dengan menenggak seteguk air.” (Shahih¸ HR Turmudzi).
d.) Berdo’a ketika berpuasa, do’anya tidak tertolak.
Sabda Nabi Shallallahu ’alaihi wa salam :
ثَلاثٌ لا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ ، وَ الإِمَامُ الْعَادِلُ ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ
”Tiga orang yang tidak ditolak do’a mereka, yaitu : seorang yang berpuasa ketika berbuka, seorang imam yang adil dan do’a orang yang teraniaya.” (Shahih, HR Turmudzi dan selainnya).
e.) Ucapan ketika berbuka.
Adalah Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa salam apabila berbuka, beliau mengucapkan :
ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
”Telah sirna dahaga dan telah basah urat-urat serta telah ditetapkan pahala dengan kehendak Alloh.” (Hasan, HR Abu Dawud).
2.      Perbanyaklah berdzikir kepada Alloh, mem-baca dan mendengar Al-Qur`an, men-tadabburi maknanya dan mengamalkannya, dan pergilah ke Masjid-Masjid untuk men-dengarkan pengajian-pengajian yang bermanfaat.

3.      Perbanyak sedekah terhadap kerabat dan orang-orang yang papa, kunjungilah karib keluarga dan berbuat baiklah terhadap musuh. Jadilah orang yang berhati lapang lagi mulia. Sungguh Nabi Shallallahu ’alaihi wa salam adalah orang yang paling lapang dengan kebaikan dan yang paling murah hati perbuatannya di Ramadhan. (Lihat HR. Al-Bukhariy no.1902)

4.      Tidak berlebih-lebihan di dalam makan 
dan minum ketika berbuka, sehingga dapat menyia-nyiakan faidah puasa dan memperburuk kesehatan diri kita sendiri. Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa salam bersabda :
مَا مَلَأَ ابْنُ آدَمُ وِعَاءً شَرً مِنْ بَطْنِهِ
”Tidaklah Ibnu Adam memenuhi suatu wadah yang lebih buruk daripada perutnya.” (Shahih, HR Turmudzi).
5.      Jangan pergi ke bioskop dan janganlah menonton televisi yang bisa jadi anda akan melihat sesuatu yang merusak akhlak dan menghilangkan pahala puasa.

6.      Jangan banyak begadang sehingga anda melewatkan sahur dan sholat fajar (shubuh) dan lebih utama bagi anda beraktivitas di pagi hari. Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa salam bersabda :
اللُّهمَّ بَارِكْ لِأٌمَّتِيْ بُكُرِهَا
”Ya Alloh berkahilah umatku di pagi hari mereka.” (Shahih, HR Ahmad).
7. Menjauhi apa yang diharamkan Allah berupa kebohongan, mencela, mencaci, menipu, khianat, melihat sesuatu yang haram seperti melihat lawan jenisnya yang bukan mahramnya, mendengarkan hal yang haram seperti musik, nyanyian, mendengarkan ghibah, ucapan dusta dan sejenisnya, serta perbuatan haram lainnya yang harus dijauhi oleh orang yang sedang berpuasa dan selainnya, akan tetapi terhadap orang yang puasa lebih dikuatkan perintahnya.


Demikian adalah sunnah dan juga adab-adab ketika kita sedang berpuasa, semoga kita bisa memahami dengan seksama dan bisa menjalankannya dengan baik.
Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Sumber :
1.       Bulletin Al Wala wal Bara, judul asli Kewajiban, Hikmah, & Adab-adab Puasa Ramadhan,
2.       Sumber artikel : http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=987
3.       Http://Dear.To/Abusalma

Sabtu, 13 April 2019

Pemimpin Dalam Pandangan Islam


PEMIMPIN DALAM PANDANGAN ISLAM
Oleh : Noer Ar-Rasyid



Assalamualaikum Sahabat tinta peradaban, Setelah beberapa lama tidak riis kali ini tinta peradaban akan mengulas tentang materi yang sangat menarik yaitu Pimpinan dalam pandangan islam. Sangat sering kita dengar pesan seseorang jadilah pemimpin yang adil dan berbudi luhur. Oleh karena itu tinta peradaban akan mengulas lebih rinci terkait Pemimpin Dalam Pandangan Islam. Silahkan disimak sahabat tinta peradaban.

Pemimpin dalam arti singkat adalah seorang yang mengatur sekelompok orang untuk mencapai sebuah tujuan. Sehinga pemimpin tidak akan pernah bisa terpisahkan dalam suatu keberjalan kelompok agar kelompok tersebut bisa berjalan bersama dan sinergis dalam menyongsong tujuan bersama.
Jadi bagaiamana  pemimpin dalam sudut pandang islam???
1.  Urgensi Pemimpin
Dalam Islam pemimpin merupakan suatu peran yang sangat krusial
 Allah berfirman dalam QS 5:51

Artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, Maka Sesungguhnya orang itu Termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS Almaidah : 51)


Dalam ayat tersebut sangatlah jelas bahwa islam mengajarkan kita untuk mengangkat seorang pemimpin yang bukan dari golongan yahudi dan nasrani melainkan angkatlah pemimpin dari golongan orang beriman. Bahkan urusan pemimpin akan berlanjut sampai di hari akhir untuk di pertanggung jawabkan dalam QS 17:71

  
Artinya :
“(ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya; dan Barangsiapa yang diberikan kitab amalannya di tangan kanannya Maka mereka ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikitpun.” ( QS. Al-Israa : 71 )

Dari ayat diatas bahwasanya kita harus sangat memperhatikan bagaimana memilih seorang pemimpin diantara kita.
2.  Kritria pemimpin dalam pandangan islam
Kriteria pemimpin sangat lah perlu diperhatikan supaya setidaknya ketika kita memilih seorang pemimpin kita dapat memilih orang yang paling sedikit kekurangannya. Islam pernah mengajarkan kepada kita melalui sejarah dua sahabat nabi yang sangat mulia yaitu Amr bin Ash dan abu dzar al-ghifari

Kisah Abu dzar al-ghifari ra suatu ketika beliau berkata kepada Rosulullah SAW “wahai Rasulullah tidakkah engkau menjadikan ku sebagai pemimpin?” mendengar perkataan seperti itu Rosulullah bersabda : “wahai abu dzar, engkau seorang yang lemah dan aku menyukai untukmu apa yang kusukai untuk diriku. Janganlah sekali-kali engkau memimpin dua orang dan jangan sekali-kali engkau menguasai pengurusan harta anak yatim.” (HR. Muslim no.1826)

Dalam hadist tersebut yang dimaksud bahwa abu dzar lemah saat menjadi pemimpin karena tingkat zuhud beliau sangat luar biasa sehingga menjadikan beliau tak bisa menjadi seorang pemimpin yang bisa mengurusi semua keperluan umat. Dan  lemah tersebut bukan suatu lemah fisik maupun lemah keilmuannya karena Abu dzar al-ghifari ra merupakan sahabat yang sangat mulia dan banyak pujian yang di berikan dari para sahabat bahwa dia adalah sosok yang penuh dengan ilmu. Dan bahkan Rosulullah SAW pun ikut menyanjung beliau karena karena kejujuran nya. Namun tidak membuat abu dzar bisa menjadi sosok pemimpin yang baik.


Kemudian beda lagi dengan kisah sahabat mulia yaitu amr bin ash, salah satu sahabat Rasulullah SAW yang terakhir memeluk islam. Amr bin Ash memiliki sejarah yang luar biasa ketika beliau sudah masuk islam yaitu menjadi pembebas mesir. Sosok Amr bin ash mempunyai banyak sekali kelebihan dalam bidang kepemimpinan dibuktikan dengan bekal yang sangat luar biasa saat menjadi panglima perang dan seorang diploma yang sangat luar biasa. Sehingga dengan bakat yang ada dalam diri amr bin ash dan dengan segala sejarah yang beliau capai Umar bin khatab ra berkata
 “Tidak pantas bagi abu abdillah (Amr bin Ash) berjalan dimuka bumi ini kecuali sebagai pemimpin”(Tarikh Dimasyq oleh ibnu Asakir).

Dari dua kisah tersebut kita dapat mengambil pelajaran bahwa utk menjadi pemimpin bukan hanya sekedar perlu ilmu dan keimanan yang kuat saja namun perlu kemampuan bagaimana kita bisa mengatur semua keperluan umat.

3.  Tugas Seorang Pemimpin
Seorang pemimpin sebenarnya mempunyai tugas yang sangatlah banyak namun secara garis besar dalam islam dapat dikecilkan menjadi dua bagian menurut ibnu khaldun yaitu :
a.  Iqomatud Din (Menegakkan Agama)
merupakan suatu tugas dari seorang pemimpin bagaimana menjalankan semua perintah Allah,  melarang apa yg tidak diperbolehkan dalam islam dan menjaga kemurnian Agama sehinggga terjauh dari  perbuatan yang mengada-ada.
b.  Saiyasatud dunya bihi (Mengatur Urusan Umat dengan Agama)
Dalam hal ini tugas pemimpin adalah mengatur segala urusan umat menggunakan syariat  islam sebagaimana mestinya. Sehingga dalam berjalannya suatu tatanan kehidupan bisa terjaga dari perbuatan yang menyimpang ataupun merugikan pihak lain dan menjadikan kehidupan manusia semakin  dekat dengan rabb-Nya.

Seperti itulah urain yang bisa tinta peradaban jelaskan mengenai “Pemimpin Dalam Pandangan Islam”. Semoga Allah dapat memandaikan kita untuk menjadi pemimpin setidaknya bagi diri kita sendiri hehe.   

Sekian penjumpaan kita kali ini Sahabat Tinta Peradaban. Terimakasih sudah menyempatkan waktu nya untuk membaca. Semoga tulisan yang kami berikan bermanfaat bagi kawan tinta peradaban dan jangan lupa share ke teman-teman yang lain.

See you next time. Wasalamualaikum wr wb