Langsung ke konten utama

Makar Allah



MAKAR ALLAH

Akhir-akhir ini marak sekali kata-kata makar yang muncul di media nasional baik media elektronik maupun media cetak akibat pergantian kekuasaan. Oleh sebab itu perlu kita mengetahui makna sesungguhnya tentang makar Allah.

Makar merupakan salah satu kemuliaan yang di punyai oleh Allah SWT. Dalam hal ini yang di maksud dengan makar adalah sebuah tindakan pembalasan atau tipu daya  kepada orang – orang yang melakukan kejahatan kepada Rosulullah dan para penerus yang memperjuangkan islam. Makar Allah merupakan suatu kebaikan, keadilan yang terjadi sedangkan Makar dari musuh Allah merupakan suatu kejahatan yang terburuk karena makar tersebut akan membuat kerusakan.

Allah berfirman :
Artinya :
“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. dan Allah Sebaik-baik pembalas tipu daya.”
(QS. Al-Anfal: 30)



Artinya :
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka[1]. dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. mereka bermaksud riya[2] (dengan shalat) di hadapan manusia. dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali[3].
(QS. An-Nisa: 142)

[1] Maksudnya: Alah membiarkan mereka dalam pengakuan beriman, sebab itu mereka dilayani sebagai melayani Para mukmin. dalam pada itu Allah telah menyediakan neraka buat mereka sebagai pembalasan tipuan mereka itu.
[2] Riya Ialah: melakukan sesuatu amal tidak untuk keridhaan Allah tetapi untuk mencari pujian atau popularitas di masyarakat.
[3] Maksudnya: mereka sembahyang hanyalah sekali-sekali saja, Yaitu bila mereka berada di hadapan orang.

Dari ayat diatas dapat kita ketahui bahwa bahwa makar dapat di bedakan menjadi dua yaitu makar Allah dan Makar musuh Allah. Oleh sebab itu kita harus percaya bahwa Allah mempunyai makar untuk orang – orang yang senantiasa berbuat kejahatan.

Pernah dengar dalam ceramah Ust. Oemar Mita tentang hidayah dan dalam kitab fawaidul Fawaid karangan ibnu Qayyim al-Jauziyyah saya akan kutip salah satu Siroh (sejarah) yang beliau berikan kepada kita :
Adapun seseorang yang sering melakukan amalan calon penghuni surga hingga jarak antara dirinya dengan surga tinggal sehasta akan tetapi takdir Allah menetapkan lain, bahwa orang tersebut masuk ke dalam Neraka karena di akhir hayat nya orang tersebut melakukan amalan penduduk neraka. Kemudian ada seorang yang sering melakukan amalan calon penduduk Neraka sehingga jarak antara dirinya dengan neraka tinggal sehasta. Namun takdir Allah yang menetapkan lain, bahwa orang tersebut masuk kedalam surga karena di akhir hayatnya orang tersebut melakukan amalan penduduk surga.

Dari siroh diatas bukan berarti bahwa Allah SWT tidak adil karena ketidakadilan merupakan suatu tindakan yang tidak mungkin bagi Allah SWT. Menurut ibnu Qayyim al-Jauziyyah siroh tersebut mengandung ibroh yang sangat banyak yaitu kesholihan amal yang tampak di depan manusia namun pada hakikat nya tidak demikian, begitu pun dengan seorang yang senantiasa melakukan amalan penduduk neraka hanya sebatas apa yang dilihat oleh manusia saja. Sebab, jika itu perbuatan yang benar – benar amal shalih yang di terima Allah SWT maka dapat mengantarkan orang tersebut ke dalam Surga Allah SWT. Kemudian jika seorang kedua senantiasa melakukan amalan penduduk neraka niscaya Allah akan memasukkan nya kedalam neraka.

Begitulah makar Allah berlaku kepada dua seorang tersebut, karena Allah maha mengetahui apa yang tidak kita ketahui.

"Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
(Qs. Al-Baqarah [2] : 30).

Contoh berikutnya adalah Makar yang di lakukan Allah SWT kepada fir’aun


Artinya :
“Dan seorang laki-laki yang beriman di antara Pengikut-pengikut Fir'aun yang Menyembunyikan imannya berkata: "Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena Dia menyatakan: "Tuhanku ialah Allah Padahal Dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. dan jika ia seorang pendusta Maka Dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu". Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta.”
(QS. Al-Mu’min : 28)


Dari ayat tersebut di sampaikan penjelasan nya oleh Ust Rofik Hidayat salah satu guru ahli sejarah menuturkan bahwa terjadi Makar Allah pada zaman fir’aun. Pada saat itu ada seseorang yang berada dekat bahkan saudara dekat dengan fir’aun namun mempunyai pehaman ketauhidan yang sempurna. Sehingga apapun yang terjadi baik suatu kebijakan atau hal yang merugikan nabi Musa AS senantiasa orang tersebut bantu. Dalam ayat diatas bahwa fir’aun ingin menjatuhi hukuman mati bagi nabi Musa AS karena menentang kebijakan yg menentang syariat Allah dan mengajarkan untuk menyembah Allah SWT saja. Sehingga membuat fir’aun marah dan ingin menjatuh kan hukuman kepada nabi Musa AS.

Makar lain nya yang terjadi pada fir’aun adalah ketika fir’aun telah mengira bahwa dia dan pasukan nya sudah menyudutkan Nabi Musa saat memanggil para penyihir untuk yang mebuat ular jadi-jadian kemudian Allah jadikan Tongkat nabi Musa AS juga menjadi ular namun lebih besar dari semua ular penyihir sehingga ular Nabi Musa memakan seluruh ular para penyihir. Kemudian Makar terakhir yaitu saat fir’aun telah percaya diri memojokkan nabi Musa AS dengan kaum nya di laut merah, namun dengan makar Allah menjadikan pertolongan dengan membelah lautan dan kemudian menenggelamkan fir’aun dan pasukan nya kedalam laut merah.
Seperti itulah makar yang dilakukan Allah terhadap fir’aun yang di abadikan dalam Al-quran agar kita senantiasa berfikir dan mengambil ibroh kejadian tersebut. Kemudian yang harus kita pahami makar Allah bukan hanya berlaku kepada mereka yang hanya berbuat dzolim namun itu berlaku kepada seluruh orang. Para wali – wali Allah dulu senantiasa menjaga diri agar tidak terkena makar Allah SWT. Karena banyak sekali orang yang banyak mengerjakan amal sholeh namun meninggal dalam keadaan su’ul khotimah atau meninggal dalam keadaan buruk. Maka dari itu kita harus senantiasa menjaga diri kita agar tidak terkena makar Allah.


“Maka Apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.”
(QS. Al-a’raf : 99)




Adapun hal-hal yang bisa menjaga kita dari makar Allah adalah
  • 1.   Merasa takut terhadap makar Allah,
  • 2.   Senantias berdzikir atau mengingat Allah,
  • 3.   Menjada dari perbuatan dosa,
  • 4.   Berdoa untuk senantiasa di berikan keluasan rahmat-Nya,
  • 5.   Ketika di timpa ujian senantiasa bermuhasabah diri.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Inilah Adab seharusnya Kepada Kedua Orang Tua

ADAB TERHADAP ORANG TUA

Adab adalah suatu bentuk tindakan terhadap orang lain, baik berupa tindakan buruk maupun tindakan baik. Adab kita kepada orang lain tentunya sangat perlu dijaga, terlebih adab kita kepada kedua orang tua kita.

Orang tua adalah sosok yang sangat berjasa bagi kita, mereka orang yang telah merawat kita dari kecil sampai sekarang ini. Orang yang tidak pernah lelah mendidik, menjaga dan bahkan senantiasa memaafkan semua kesalahan yang kita perbuat. Oleh sebab itu perlu nya kita membalas budi mereka yang pada hakikatnya apa yang kita berikan tidak akan bisa membalas apa yang mereka perbuat kepada kita. Dalam hal yang paling kecil adalah bagaimana kita memperlakukan kedua orang kita atau bagaimana adab kita kepada beliau.

Dalam islam, adab kita terhadap kedua orang tua sangatlah diatur, bahkan sampai – sampai Allah mengaitkan hak kedua orang tua dengan hak diri-Nya yang wajib ditunaikan oleh seorang muslim. Allah berfirman :
QS.A-Isra’ : 23 -24
Artinya :(23) Dan Tuhanmu t…

Bagaimana Menyambut Ramadhan ?

Bagaimana Menyambut Ramadhan ? Oleh : Zaid Al-husna

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Alhamduillah, segala puji bagi Allah swt, Rabb bumi dan langit, yang maha mengetahui sesuatu yang ada di langit, di bumi, dan diantara keduanya, yang tampak maupun yang tidak nampak.
Apa kabar sahabat TiBan (Tinta Peradaban) ?
Semoga kita selalu dilindungi oleh Allah swt, dari semua hal yang bisa membatalkan keimanan kita kepada Allah swt.
Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada sebaik-baik manusia yang berbuka dan berpuasa, shalat malam dan tidur, yang menegakkan daulah islamiyah dan meruntuhkan daulahberhala, yakni Rasulullah saw. Semoga kita semua senantiasa teguh meniti jalan yang telah dicontohkan oleh beliau, agar kita semua bisa selamat sampai tempat tujuan yang sangat mulia, dan tidak ada tandingannya, yaitu Surganya Allah swt.
Allah swt berfirmam :

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu b…

POTRET QURAN TERHADAP KELUARGA YANG DI RINDUKAN SURGA

POTRET QURAN TERHADAP KELUARGA YANG DI RINDUKAN SURGA Oleh : Yahya Abidurrahman


Keluarga merupakan satu diantara sekian banyak perhiasan dunia yang bandingannya tiada tara. Maka, Memiliki anggota keluarga yang lengkap merupakan dambaan setiap insan. Keluarga merupakan aset mahal, karena dari keluargalah peradaban dimulai dan dari keluargalah seseorang memiliki identitas social baik kedudukan ataupun pangkat yang akan dimiliki seseorang sehingga manusia yang hidup mampu mengenali dan bertahan hidup serta dihargai dan diterima dilingkungan sosialnya.

Terkadang betapa mahalnya keluarga sampai digambarkan oleh orang jawa dalam istilah yang sering kita dengar “mangan ora mangan sing penting kumpul” begitu pentingnya makna keluarga ketimbang sesuap makanan bagi suku jawa.

Disisi lain Keluarga merupakan institusi pertama (madrosatul ula) yang dikenal dan digunakan oleh manusia sebagai sarana untuk mengenali dan mengenalkan serta untuk mengetahui dan memberitahu tentang pembelajaran dasar menyoal…